Latest

Materi Sains Berbahasa Inggris: Flu

No comments:
Kali ini saya ingin tampilkan sebuah artikel dari jurnal sains online gratis yang dibikin para mahasiswa Cambridge University, Inggris. Nama jurnalnya BlueSci, (silakan akses sendiri). Menurut saya, dengan artikel-artikel pendek yang ditulis dalam bahasa sederhana, jurnal ini menyediakan materi yang sangat berharga bagi para murid SMA. Ya, materi sains berbahasa Inggris, belajar sains sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.
Ini adalah salah satu artikelnya:

Flu: How viral infection causes intestinal disease

Why do we often suffer from vomiting and diarrhoea during an influenza? Influenza is an infectious respiratory disease, whereas vomiting and diarrhoea are symptoms of a gastrointestinal disease. Researches have now found the mechanism by which they are connected.

Using a mouse model of respiratory influenza infection, they found that lymphocytes (immune cells of the adaptive immune system) migrate specifically from the respiratory mucosa into the intestinal mucosa. In the intestine, these lymphocytes secrete pro-inflammatory mediators that alter the composition of the intestinal microbiota. Eventually, the loss of intestinal homeostasis leads to inflammation to cause intestinal injury and result in gastrointestinal disease symptoms.

The findings support the concept of a ‘common mucosal immune system’
But why do lymphocytes migrate from the lungs to the gut during an influenza infection at all? This process could represent a regulatory mechanism of the body to deal with an overwhelming immune response. It is a trade-off: Diverting the immune response from the lung into the intestine is possibly less dangerous than allowing the lung tissue to be damaged by the strong immune response.
These findings support the concept of a ‘common mucosal immune system’; an idea which assumes that immune cells and structures contained in mucosal tissues are universally connected within the body and should therefore be considered as one large but distributed ‘organ’.
doi/10.1084/jem.20140625
Written by Verena Brucklacher-Waldert.

Sederhana, bukan?

Baiklah mari kita telaah dari sisi Bahasa Inggrisnya untuk memungut pemahaman atas informasi yang disajikan dalam artikel tersebut.

Flu: How Viral Infection Causes Intestinal Disease

Perlu diingat lagi, bahwa judul sebuah tulisan (baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris) umumnya berbentuk frasa, sehingga tidak memerlukan tanda baca di akhirnya. Meskipun demikian, dalam banyak contoh, frasa judul memiliki struktur dengan unsur-unsur kalimat fungsional. Seperti dalam artikel ini: Noun Phrase (NP) + Verb Phrase (VP).

NP dalam judul itu adalah viral Infection, sedangkan VP-nya adalah causes intestinal desease. Viral infection adalah frasa (gabungan lebih dari satu unsur) kata benda, yang terdiri dari viral dan infection. Viral sendiri adalah kata yang berubah dari kata benda virus menjadi kata sifat viral, untuk menerangkan kata benda infection.

Perhatikan, karena VP-nya (atau dalam tatabahasa konvensional disebut “subjek”) adalah orang ketiga tunggal (third singular subject), maka kata kerja dalam VP berimbuhan “s”, dari “cause” menjadi “causes”. Sedangkan intestinal disease adalah bagian dari VP yang berfungsi sebagai objek penderita. Objek selalu dibutuhkan untuk kata kerja transitive, seperti makan, menulis, memukul, membeli dan lain-lain.

Dengan mengetahui fungsi-fungsi unsurnya, maka kita pun lebih mudah mengartikan frasa atau kalimat.

Flu: bagaimana infeksi virus menyebabkan gangguan dalam perut

Mari lanjut ke isi artikel.

Why do we often suffer from vomiting and diarrhoea during an influenza? Influenza is an infectious respiratory disease, whereas vomiting and diarrhoea are symptoms of a gastrointestinal disease. Researches have now found the mechanism by which they are connected.

Kalimat pembukanya berbentuk pertanyaan, dengan NP “we” dan VP “suffer from.... dst”. Mengapa kita sering mengalami muntah-muntah dan diare saat terserang influenza?

Pertanyaan itu dijawab:
Influenza is an infectious respiratory disease, whereas vomiting and diarrhoea are symptoms of a gastrointenstinal disease.

Jawaban itu berisi dua kalimat (compound sentence, atau kalimat majemuk) yang dihubungkan dengan kata whereas. Kalimat pertama berisi “Influenza” sebagai NP dan “is an infectious respiratory disease”. Kalimat kedua tersusun atas vomiting and dearrhoea sebagai NP dan “are symptoms of a gastroinstinal disease” sebagai VP. Atribusi kata kerja “is” menggunakan gabungan kata benda disease dan dua kata sifat sekaligus yakni infectious dan respiratory.  Cara standar dalam menerjemahkan kata sifat ganda seperti ini adalah mendahulukan kata sifat yang belakang.

Cukup jelas, ya:

Influenza adalah sebuah penyakit terkait pernafasan yang menular, sedangkan muntah-muntah dan diare adalah gejala-gejala gangguan terkait dengan perut.

Kalimat ketiga di paragraf pembuka berisi Researchers sebagai NP dan “have found mechanism” sebagai VP. Namun, kata “mechanism” diperjelas dengan sebuah anak kalimat (adverbial clause) “by which they are connected.” (Silakan baca artikel-artikel sebelumnya tentang clause).

Dengan cara yang sama, menguraikan unsur-unsur kalimat beserta masing-masinf fungsi dan kedudukannya, maka kita bisa mudah mencerna informasi dalam kalimat tersebut:

Para peneliti telah menemukan mekanisme, yang menghubungkan keduanya.

Lho, kok pendek terjemahannya? Baiklah, mari kita coba gunakan secara kaku berdasarkan pola gramatikal kalimat tersebut. Maka, yang akan kita dapatkan adalah kalimat seperti ini:
Para peneliti telah menemukan mekanisme, yang dengan mekanisme  itu (by which) keduanya (flu dan gangguan perut) berhubungan.

Benar secara logika bahasa Inggris, tapi terlalu ribet untuk Bahasa Indonesia.

Baiklah, silakan coba lanjutkan paragraf berikutnya, sebelum ketemu pembahasan materi ini pada artikel lanjutan.
Salam Belajar.

Berhenti Belajar Bahasa Inggris di Sekolah

No comments:
Suatu saat saya pernah merenung-renung, mungkin lebih tepat melamun, bahwa kalau ada mata pelajaran yang paling layak untuk dihapus di sekolah adalah Bahasa Inggris. Karena bukan hasil pemikiran ilmiyah wa-l-akademisiyah, lamunan itu saya biarkan saja berlalu. Lagipula, apa kata orang, saya yang dulu kuliah jurusan Tadris Bahasa Inggris alias kuliah calon guru Bahasa Inggris, kok jadi "sentimen" sama mata pelajaran Bahasa Inggris.

Sebetulnya bukan sentimen. Tapi, saya waktu itu merasakan semacam getaran adanya keniscayaan tak terbendung bahwa matapelajaran Bahasa Inggris akan selalu keteteran dengan dahsyatnya perubahan generasi milenial. Bayangkan, untuk menyusun sebuah kurikulum dibutuhkan keputusan politik yang harus melewati ontran-ontran di luar pemikiran konsep, kajian, ujicoba (kalau sempat) sampai sosialisasi dan penataran-pentarannya. Lalu setelah kegaduhan reda, buku disusun, diterbitkan, dijual dan dibeli anak sekolah dan gurunya.

OK, ini bukan hasil kajian ilmiah. Tapi, pagi ini saya dapat kiriman artikel tentang shifting yang ditulis oleh Profesor Rhenald Kasali. Artikel itu bicara soal bisnis. Intinya menggambarkan arus perubahan cepat generasi milenial yang menabrak tanpa ampun aneka regulasi, sekaligus memangsa model-model bisnis yang tak mau tahu dengan arus itu. Lalu, apa hubungannya dengan lamunan saya di atas?

Sepertinya tidak ada. Cuma, tulisan Pak Rhenald itu membuat saya melamun lagi. Kali ini lamunan membawa saya ke memori di masa lalu. Suatu hari, saya ke toko buku, membeli sebuah novel berbahasa Inggris, The Juror, karya George Dawes Green. Selain tertarik karena novel itu sudah ditenarkan oleh film dengan judul yang sama, waktu itu saya merasa percaya diri bisa dan ingin menikmati novel itu dalam bahasa aslinya.

Apa yang terjadi? Saat itu saya merasa sudah dapat menabung kosakata yang lumayan setelah dua tahunan bekerja di media. Jauh lebih besar dari yang saya kumpulkan selama kuliah. Padahal, saya cukup sering pinjam buku apa saja di perpustakaan, yang berbahasa Inggris dan tak ada hubungannya dengan materi kuliah, termasuk novel dan kumpulan cerpen. Tapi, rupanya itu semua tak cukup. Saya hanya mampu bertahan tak sampai lima belas halaman The Juror. Mumet, ribet.... lelah.

Kandungan kosakata berikut citarasa idiomatik 'kekinian' dalam novel itu begitu berat bagi saya, sehingga buku itu cukup jadi hiasan lemari saja. Masa, di setiap baris mesti buka kamus, dan belum tentu nyantol maknanya. Beberapa tahun kemudian buku itu baru bisa saya nikmati.

Apakah bahasa Inggris saya jauh lebih hebat? Tidak. Sederhana saja, karena pekerjaan, saya dipaksa melakukan hal yang saya ogah melakukannya saat menjadi penikmat buku, sabar buka kamus kata demi kata. Thanks to Google age, setiap kosakata aneh berikut citarasa kultural di baliknya bisa diunduh jadi pengetahuan. Di mana saja. Kapan saja.

Apakah generasi anak-anak saya butuh proses sepanjang dan serumit itu untuk bisa menikmati buku berbahasa Inggris? Saya menduga kemungkinan besar tidak. Mengapa? Banyak contoh, anak-anak milenial mampu cepat menyerap instruksi, petunjuk, atau materi apa saja yang menarik minat mereka dalam Bahasa Inggris. Mereka belajar. Benar-benar belajar untuk sesuatu yang mereka butuhkan dan menarik.

Kalau dugaan saya benar, kalau anak-anak menyukai sains, misalnya, cobalah minta mereka mencari sendiri materi sains dalam topik yang relevan dengan pelajaran. Lalu, beri kesempatan mereka menjelaskan apa yang mereka temukan. Sekurang-kurangnya dua hal didapat sekaligus, pengetahuan sains dan pembangunan pemahaman konseptual sistem bahasa Inggris.

Tentu saja, itu bukan perkara sederhana. Jangan pula berharap sim-salabim anak mahir bahasa Inggris dalam sekejap. Tapi, dalam pengalaman saya sebagai produk generasi zaman semonow, walaupun hanya satu artikel pendek, asal bahasa Inggris asli, bukan bahasa Indonesia yang "di-inggriskan", berlelah-lelah membuka kamus dan riset konteks dapat membawa imbal hasil yang sangat berarti.

Berhubung ini hanya lamunan dan dugaan-dugaan, maka sebaiknya matapelajaran Bahasa Inggris tetap ada di sekolah. Abaikan saja gambar dalam tulisan ini.

Belajar Grammar dari Berita Koran, Jakarta-Post (3)

No comments:

Ini bagian terakhir dari artikel pembahasan berita bahasa Inggris berjudul Italian woman saves for 2 years to marry Indonesian villager. Penguraian unsur-unsur kalimat pada dua tulisan sebelumnya diharapkan bisa memberi gambaran tentang cara yang efektif dalam mencerna bacaan berbahasa Inggris. Dengan mengenali dua bagian inti dari setiap kalimat, yakni NP dan VP, kita tidak hanya dapat menyerap aplikasi grammar dalam bahasa Inggris popular (dalam hal ini bahasa koran), tapi juga memudahkan kita dalam menangkap maknanya, dan bahkan menerjemahkannya.


Paragraf III dan seterusnya


Dalam pembahasan berikut ini masing-masing kalimat akan ditandai dengan pembedaan warna antara NP dan VP. NP berwarna merah, VP berwarna biru, dan tambahan (penjelas) NP maupun VP berwarna kuning.

On April 18, Ilaria arrived in Batang and directly headed to Tragung village, Kandeman district, Batang regency. She said her purpose of coming to Indonesia was to meet Dzulfikar. The two had agreed to marry, tribunenews.com reported.

Pada tanggal 18 April, Ilaria tiba di Batang dan langsung menuju Desa Tragung, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. Dia (Ilaria) mengatakan (bahwa) tujuannya datang ke Indonesia adalah untuk bertemu dengan Dzulfikar. Keduanya sudah setuju menikah, tribunenews.com melaporkan.

Catatan: Kalimat pertama adalah kalimat majemuk yang berisi dua VP (arrived dan directly headed to) untuk satu NP (Ilaria). Catatan lainnya, biasa dalam penulisan berita, isi berita menjadi satu kalimat, dan pengutipan dari sumber atau narasumber menjadi kalimat tersendiri (ada unsur NP dan VP yang mandiri) serta dipisahkan dengan tanda baca koma (,): The two had agreed to marry, tribunenews.com reported.


Ilaria said she conveyed her plan to marry Dzulfikar to her parents in Italy and that they gave her consent to do so.

Ilaria mengatakan dia sudah bilang soal rencana menikahi Dzulfikar kepada kedua orangtuanya di Italia dan bahwa mereka memberi persetujuan untuk melakukannya.

Catatan: Sama seperti catatan sebelumnya, dalam penulisan berita selalu ada kutipan dari perkataan sumber atau narasumber, sehingga isi kutipan (dalam hal ini kutipan tidak langsung) menjadi kalimat utuh tersendiri (ada NP dan VP).


For two years, I saved money I got from working in a restaurant in Italy just to come to Indonesia,” said Ilaria. Her arrival in Batang quickly drew public attention, including from police authorities who immediately dispatched personnel to check on the presence of the foreigner in the Batang village.

"Selama dua tahun, saya menabung uang yang saya dapat dari bekerja di sebuah restoran di Italia hanya untuk datang ke Indonesia," kata dia.  Kedatangannya di Batang dengan cepat menarik perhatian publik, termasuk dari otoritas kepolisian yang langsung mengerahkan personel untuk memeriksa keberadaan orang asing itu di desa di kabupatan Batang tersebut.

Catatan: Dalam kutipan langsung, ada kesamaan dengan pola dengan bahasa Indonesia: VP diikuti NP: "kata dia".


Dzulfikar’s neighbors reportedly notified the police of Ilaria’s presence.

Para tetangga Dzulfikar-lah, menurut laporan, (yang) memberitahu polisi tentang keberadaan Ilaria.

Catatan: Penerjemahan ini menunjukkan bahwa dalam menerjemahkan kita perlu "mendekat" ke bahasa kepada bahasa target, atau tidak kaku pada struktur bahasa asal. Kenapa demikian? Supaya terjemahan dapat dimengerti oleh pembaca dalam bahasa target. Namun, kita tetap harus mengetahui struktur bahasa asalnya agar tidak salah menangkap maknanya. Ada ungkapan begini: Translation is like woman. It is pretty if it is not faithful. Artinya, Terjemahan itu seperti perempuan. Ia cantik kalau tidak setia. Mohon, buat kaum perempuan, jangan diambil hati, ya. Ini hanya kelakar.


Tentang kata reportedly sudah dibahas pada artikel sebelumnya.


Accompanied by three personnel, Batang Police deputy chief First Insp. Agus Windarto traveled to Tragung village to assess the situation. “We questioned her to determine what her purpose was of coming to Indonesia,” said Agus.

Ditemani tiga personel, Wakil Kepala Kepolisian Batang Inspektur Satu Agus Windarto pergi ke Desa Tragung untuk melihat keadaan. "Kami menanyai dia untuk mengetahui apa tujuannya dia datang ke Indonesia," kata Agus.

SELESAI

Belajar Grammar dari Berita Koran, Jakarta-Post (2)

No comments:

Salam jumpa lagi teman-teman. Ini adalah bagian kedua dari seri pertama pembahasan teks berita koran sebagai media belajar bahasa Inggris yang asyik. Yang belum baca bagian pertama silakan klik di sini. Paragraf kedua dari teks The Jakarta Post dengan judul Italian Woman Saves for 2 years to marry Indonesian villager berbunyi sebagai berikut:

URAIAN GRAMMAR

Paragraf II


Ilaria, for instance, a young Italian woman who was previously living in Italy, was determined to meet Dzulfikar, a young man living in Batang regency, Central Java, who she met on the internet.
The two began communicating via Facebook before reportedly falling in love and agreeing to marry.
On April 18, Ilaria arrived in Batang and directly headed to Tragung village, Kandeman district, Batang regency. She said her purpose of coming to Indonesia was to meet Dzulfikar. The two had agreed to marry, tribunenews.com reported.

Kalimat pertama


Ilaria, for instance, a young Italian woman who was previously living in Italy, was determined to meet Dzulfikar, a young man living in Batang regency, Central Java, who she met on the internet
NP: Ilaria, for instance, a young Italian woman who was previously living in ItalyVP: was determined to meet Dzulfikar, a young man living in Batang regency, Central Java, who she met on the internet.Inti kalimat dari rangkaian kata yang begitu panjang sebetulnya adalah:

Ilaria was determined to meet Dzulfikar.Di sini kita mendapat pola yang sangat sering dipakai dalam teks berita maupun buku literatur, yaitu subjek ditambah kata for instance (misalnya) yang diapit dua tanda baca koma. Dalam Bahasa Indonesia pun pola itu sangat lazim. Sehingga jika di terjemahkan menjadi: Ilaria, misalnya,   ....

Kali ini subjek Ilaria dijelaskan dengan satu rangkaian kata yang kita kenal dengan nama anak kalimat atau subclause: a young Italian woman who was previously living in Italy (seorang pemudi Italia yang sebelumnya tinggal di Italia). Karena menerangkan kata benda woman, maka anak kalimatnya disebut anak kalimat yang menyifati kata benda, atau adjective clause. Sedangkan anak kalimat yang menerangkan kata kerja dinamakan adverbial clause.

Nah, keterangan untuk Dzulfikar sebagai objek dijelaskan lebih panjang lagi, yang terdiri dari dua subclause, yaitu:
a man living in Batang regency, Central Java (pria yang tinggal di Kabupaten Batang, Jawa Tengah)
dan
who she met on the Internet, (yang dia kenal melalui internet).
[Subclause pertama asalnya adalah a man who is living in Batang.... dst.]

Sudah ketemu, ya, artinya:

Ilaria, misalnya, seorang pemudi Italia yang sebelumnya tinggal di Italia, mantap betemu dengan Dzulfikar, seorang pemuda yang tinggal di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang dia kenal melalui Internet.


Kalimat kedua


The two began communicating via Facebook before reportedly falling in love and agreeing to marry.

NP: The two
VP: began communicating via Facebook before reprtedly falling in love and agreeing to marry.

NP-nya singkat, tanpa embel-embel, keduanya, maksudnya Ilaria dan Dzulfikar. Sedangkan VP-nya disertai dengan rangkaian panjang. Lihat, ada dua kata kerja berjejer, yaitu began communicating. Ini adalah pola yang berlaku untuk kata kerja seperti begin.

Special Verbs (Verbs followed by gerund)

Ada banyak sekali "saudara kata" begin yang dalam kalimat boleh diikuti dengan GERUND, atau kata kerja "yang dibendakan". Kalau mau menghafalkan, ini:

admit,  advise, allow, anticipate, appreciate, avoid, can't bear, can't help, can't see, can't stand, cease, complete, consider, continue, defend, delay, deny, despise, discuss, discuss, dislike, don't mind, dread, encourage, enjoy, finish, forget, hate, imagine, involve, keep, like, love, mention, mind, miss, need, neglect, permit, postpone, practice, prefer, propose, quit, recall, recollect, recommend, regret, remember, report, require, resent, resist, risk, start, stop, suggest, tolerate, try, understand, urge.

Hal menarik lainnya dalam VP adalah penggunaan kata keterangan (adverb) reportedly. Kata ini sering dipakai dalam berita koran untuk menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan adalah berdasarkan laporan yang didapat oleh pembuat berita.

Kata ini berasal dari kata kerja report, berubah menjadi bentuk PAST PARTICIPLE reported, yang biasa digunakan sebagai kata sifat pasif. Contohnya, the neglected children (anak-anak yang terlantar atau yang ditelantarkan),dari kata kerja neglect menjadi kata sifat neglected; atau related issues (isu-isu yang terkait) --dari kata kerja relate menjadi kata sifat related.

Kurang lebih, kalau diterjemahkan secara bebas, kata reportedly berarti "menurut laporan-laporan" atau "konon kabarnya", atau "menurut cerita-cerita".

Jadi, before reportedly falling in love and agreeing to marry, berarti [Keduanya, Ilaria dan Dzulfikar] sebelum, konon kabarnya, saling jatuh cinta dan setuju menikah. Maka kalimat kedua bisa diterjemahkan menjadi:
Keduanya mulai berkomunikasi via Facebook sebelum, konon kabarnya, saling jatuh cinta dan setuju menikah.

[Bersambung ke:Italian woman marries Indonesian villager (3-habis)]




Belajar Grammar dari Berita Koran, Jakarta-Post (1)

No comments:

Kita mulai praktik belajar grammar langsung dengan membaca koran berbahasa Inggris. Kali ini kita coba beria ringan dari The Jakarta Post yang diadaptasi dari situs berita oniline tribunenews.com. Meskipun adaptasi dari berita berbahasa Indonesia, citarasa ke-Inggris-anya terjamin, dan karena itu bernilai buat memperkaya kosakata kita, juga menguatkan kemampuan grammar kita.

Italian woman saves money for 2 years to marry Indonesian villager 

The Jakarta Post
Jakarta | Sat, April 22, 2017 

The rise of social media in the past decade has allowed people to form relationships via social networking services such as Facebook regardless of their background.
Ilaria, for instance, a young Italian woman who was previously living in Italy, was determined to meet Dzulfikar, a young man living in Batang regency, Central Java, who she met on the internet.
The two began communicating via Facebook before reportedly falling in love and agreeing to marry.
On April 18, Ilaria arrived in Batang and directly headed to Tragung village, Kandeman district, Batang regency. She said her purpose of coming to Indonesia was to meet Dzulfikar. The two had agreed to marry, tribunenews.com reported.
Ilaria said she conveyed her plan to marry Dzulfikar to her parents in Italy and that they gave her consent to do so.
“For two years, I saved money I got from working in a restaurant in Italy just to come to Indonesia,” said Ilaria. Her arrival in Batang quickly drew public attention, including from police authorities who immediately dispatched personnel to check on the presence of the foreigner in the Batang village.
Dzulfikar’s neighbors reportedly notified the police of Ilaria’s presence.
Accompanied by three personnel, Batang Police deputy chief First Insp. Agus Windarto traveled to Tragung village to assess the situation. “We questioned her to determine what her purpose was of coming to Indonesia,” said Agus. (mrc/ebf)

URAIAN GRAMMAR

Judul: Italian woman saves for two yeras to marry Indonesian villager

Cukup jelas, ya, judul berita menggunakan bentuk kalimat simple present.

NP: Italian woman = (Perempuan Italia)
VP: saves for two years to marry Indonesian villager = (Menabung selama dua tahun buat menikahi orang desa Indonesia.)
Karena subjeknya satu, orang ketiga, maka kata kerja save mendapat imbuhan "s". Kenapa kata kerja marry (menikahi) tidak mendapat imbuhan "s"? Sebab, dalam satu kalimat atau satu kombinasi NP+VP, yang punya fungsi tenses hanya satu kata kerja, yang dalam hal ini kata kerja saves. Kata kerja marry adalah bagian dari rombongan atau frasa VP sehingga bentuknya asal di awali dengan partikel to (to + infinitive).

Bisa dicoba dengan contoh lain.

Javanese girls save for 4 years to buy Intalian car.
Sumatran boy saves for 6 month to fly to Italy.


Paragraf I

The rise of social media in the past decade has allowed people to form relationships via social networking services such as Facebook regardless of their background. 
NP: The rise of social media in the past decade (Munculnya media sosial pada dekade lalu)
VP: has allowed people to form relationships via social networking services such as Facebook regardless of their background. (memungkinkan orang-orang menjalin hubungan lewat layanan jaringan sosial seperti Facebook tanpa memandang latar belakang.)Dari inti NP dan VP, kita bisa identifikasi kalimat tersebut menggunakan bentuk present perfect (has+V3), yaitu subjek the rise of social media dan has allowed. Kali ini, VP-nya sangat panjang, dan di dalamnya juga terdapat kata kerja, form (membentuk atau menjalin), yang tidak memiliki fungsi tenses dan berbentuk kata asli (infinitive)

Kenapa, sih,  tidak menggunakan simple past saja? Karena penulis ingin memberi penekanan pada rangkaian situasi dengan akibatnya dalam konteks sekarang.

Perhatikan dua contoh kalimat bahasa Indonesia ini:
Tahun lalu sekolah kami menerbitkan beberapa buku pelajaran.
Sejak tahun lalu, sekolah saya sudah menggunakan buku terbitan kami sendiri.

Ada kemiripan unsur masa lalu (tahun lalu) dalam kedua kalimat tersebut. Tapi, yang pertama tidak mengaitkannya dengan konteks saat ini. Sedangkan kedua mementingkan proses situasi yang terkait dengan konteks saat ini (sejak tahun lalu.... sehingga sekarang, misalnya, sudah tidak perlu lagi membeli buku dari penerbit).

Maka dalam Bahasa Inggris, kalimat pertama menggunakan bentuk simple past:

Our school published several textbooks last year.

NP: Our school
VP: published several textbooks last year.
Sedangkan kalimat kedua menggunakan bentuk present perfect:
Our school has since last year used textbooks published by our own
.
NP: Our scool
VP: has since last year used textbooks published by our own.


[Bersambung]

Cara Asyik Belajar Bahasa Inggris (Bagian ke-2)

No comments:

[Bagian kedua dari dua tulisan] Sekarang mari kita lanjut dengan membahas aspek kedua dari kalimat Bahasa Inggris, yaitu perubahan kata. Dalam Bahasa Indonesia, perubahan kata bisa dikatakan terbatas, bila dibandingkan dengan Bahasa Inggris, atau bahasa asing lain seperti Bahasa Arab.

2. MEMAHAMI PERUBAHAN KATA BAHASA INGGRIS



Perubahan kata dalam Bahasa Indonesia yang paling umum adalah penambahan imbuhan pada kata kerja, misalnya:

awalan me-
 beli <> membeli

awalan di-
 buka <>dibuka

awalan pe-
kerja <> pekerja

akhiran -i
kenal <> kenali

imbuhan me- dan -kan
timbul <> menimbulkan

Masih ada beberapa lagi, termasuk perubahan kata benda dengan imbuhan ber- seperti berkumis.

Tetapi, Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan kata berdasarkan waktu, subyek atau jumlah. Pergi setiap hari, sedang pergi, pergi kemarin, pergi besok lusa, sudah pergi, seharusnya sudah pergi, Agnes pergi, Hasan pergi, mereka pergi, kita pergi.... semua dengan kata pergi yang tidak berubah bentuk.

Bahasa Inggris tidak demikian, karena perbedaan waktu dan perbedaan subyek membutuhkan perubahan kata: dari go, goes, going, went, gone. Hanya lima, sih, untuk kata kerja, yakni kata kerja bentuk dasar (infinitive), bentuk "s" untuk subyek orang ketiga tunggal, bentuk ing untuk present participle dan gerund, serta bentuk past participle.

Ya, boleh dibagi tiga saja: present, present participle dan past participle. Tapi, yang tiga ini dalam praktiknya membutuhkan varian-varian perubahan yang menghasilkan 16 rumus tenses! Sudah. Cukup di sekolah saja belajar tenses satu persatu dengan hafalan-hafalan rumusnya, tapi tak kunjung tahu penggunaannya dalam situasi  nyata. Apalagi, contoh kalimatnya itu-itu terus: I go to school, I am going to school, He opened the door, She has studied English.....

Coba ingat-ingat lagi, ada berapa puluh topik Pelajaran Bahasa Inggris  sejak SMP sampai perguruan tinggi? Sebutkan!

Kalau yang di rapor atau UN dapat nilai Bahasa Inggrisnya 8-10, mungkin akan lancar mengingat materi dalam topik-topik seperti Simple past, Present Continuous, Modals, Passive Voice, Conditional Sentece, Unreal Past, Gerund, Uncountable nouns, many-much-a lot-.

Tapi, sering nilai sempurna tidak dengan sendirinya menjelma menjadi kelancaran dalam membaca literatur, novel, koran, berbahasa Inggris; berkomunikasi dengan rekan kerja yang hanya bisa bahasa Inggris; berdiskusi atau chatting berbahasa Inggris, dan lain-lain. Kenapa? Karena pelajaran Bahasa Inggris lebih sering menyendiri ketimbang berdekatan dengan bottom line bidang belajar.

OK, tak ada gunanya "menyesali" yang sudah berlalu. Lebih baik bersenang-senang dengan bacaan-bacaan riil bahasa Inggris, dan sambil lalu kita mengingat pelajaran grammar. Mulai tulisan selanjutnya, saya mencoba menawarkan semacam strategi deduktif dalam belajar Bahasa Inggris.

Kita ambil teks, entah dari koran, majalah, buku, blog.... apa saja... lalu kita jelajahi maknanya dan (mungkin sekadar buat bernostalgia) mengingat-ingat materi grammar yang tersedia dalam teks.


Cara Asyik Belajar Bahasa Inggris (Bagian ke-1)

No comments:

Belajar Bahasa Inggris sebetulnya asyik, kalau tidak keburu diselimuti oleh momok kerumitan belajar grammar. Contoh momok yang sering bergentayangan adalah: "cara mudah menghafal 16 tenses!" Bayangkan, kita diiming-imingi "cara mudah", tapi pada saat yang sama kita "diancam" keharusan menghafal "16 tenses!" Kapan selesainya? Kapan kita bisa menikmati novel berbahasa Inggris?


OK, tenses memang wajib. Tapi, percaya, deh, kalau pagi-pagi langsung harus mengunyah tenses sebelum nyeruput kopi.... eh, maaf, sebelum ngeh karakter kalimat Bahasa Inggris, bisa bikin sakit perut. Kalau rumus 16 tenses sudah kita hafal di luar kepala, so what? Kita mungkin mahir mengubah-ubah kalimat dari "I go to school", "I am going to school", sampai "I should have gone to school." Kemahiran itu bisa tercapai, walau  tanpa mengerti perbandingannya dengan bahasa kita sendiri, Bahasa Indonesia.

Jika demikian yang terjadi, akibatnya kita kesulitan menempatkan pilihan tenses yang tepat, saat kita hendak berkomunikasi. Atau, kita juga kesulitan menangkap maksud sebuah ungkapan saat membaca buku, koran, majalah, atau mendengarkan orang berbicara. Bagaimanapun, sebagai bahasa asing, Bahasa Inggris punya karakter dan pola kalimat yang berbeda denan Bahasa Indonesia.

Nah, sebelum mengunyah tenses dan bertumpuk-tumpuk urusan grammar lainnya yang rumit itu, kita perlu mencerna terlebih dulu karakter kalimat Bahasa Inggris dan perbandingannya dengan kalimat dalam Bahasa Indonesia. Saya akan coba klasifikasi masalah "karakter" ini ke dalam dua bagian besar: yaitu unsur kalimat dan perubahan kata. Mudah-mudahan, uraian ini bisa membantu mengusir momok kerumitan belajar grammar.

1. MEMAHAMI UNSUR KALIMAT BAHASA INGGRIS


Dalam Bahasa Indonesia, kita biasanya diajari bahwa sebuah kalimat lengkap memiliki sekurang-kurangnya unsur Subjek (S) dan Predikat (P).
Contoh:
1. Saya pergi.
     Saya (S) | pergi (P)
2. Ia seorang guru.
    Ia (S) | seorang guru (P).

[Perhatikan: pada kalimat nomor 1, predikat berupa kata kerja, sedangkan kalimat nomor 2, predikat tidak berupa kata kerja.]

Bahasa Inggris-pun sama, menggunakan pengelompokan unsur kalimat yang dibuat Aristoteles di zaman Yunani klasik itu. Kalimat terdiri dari Subjek dan Predikat.

Tapi, ada satu cara lain pengelompokan unsur kalimat, yakni versi Noam Chomsky (Kalau ingin mendalami lebih jauh, pengelompokan ini diuraikan Chomsky dalam teori Gramatika Transformasi Generatif tahun 1957). Cara Chomsky adalah penyederhanaan pemahaman grammar, tapi belum banyak terjelma ke dalam model pembelajaran Bahasa Inggris, khususnya di Indonesia.


Penyederhanaanya begini: kalimat Bahasa Inggris terdiri dari dua bagian: yaitu "rombongan benda
atau Noun Phrase (NP) dan "rombongan verba"  atau Verb Phrase (VP).

Jadi, kalau dibuat "rumus ala matematika" kalimat atau sentence (S) Bahasa Inggris itu

S = NP + VP


Contoh:
1. He writes novels.
    He (NP) | writes novels (VP)

2. The sky is cloudy.
    The sky (NP) | is cloudy (VP)

Sepanjang apapun, kalimat Bahasa Inggris yang dimulai dari huruf kapital pada kata pertama sampai titik akhir kalimat, unsurnya ya itu. NP + VP. Hanya saja, (ini sebabnya saya gunakan istilah "rombongan") NP dan VP bisa dipanjang-panjangkan untuk memperjelas, tapi tetap menjadi bagian dari NP atau VP.

Terkadang, bagian penjelas itu cukup lengkap sehingga kalau dipisahkan sudah memenuhi unsur kombinasi NP plus VP. Ini yang biasanya dinamakan anak kalimat (sub-clause).

Contoh:

He wrote a novel, in which he told a love story of a beautiful young girl.

NP dalam kalimat itu adalah He, sedangkan VP-nya adalah wrote a novel. Tapi, kata novel (yang merupakan bagian dari VP wrote a novel) kemudian ditambahi dengan rombongan penjelas yang cukup panjang:

in which he told a love story of a beautiful young girl.

Coba perhatikan, tambahan yang panjang itu sesungguhnya juga sudah mengandung kombinasi NP + VP, yaitu He sabagai NP dan told a love a story of a beautiful young girl sebagai VP. Tapi, rangkaian ini dalam analisis unsur ala Chomsky adalah bagian dari VP wrote a novel. Dalam grammar (nanti kita bahas, ya) rangkaian ini dinamakan anak kalimat (sub-clause).

[Bersambung]

Total Pageviews

Search This Blog

Google+ Badge

Powered by Blogger.

Pilihan Topik

Artikel Terbaru

Materi Sains Berbahasa Inggris: Flu

Kali ini saya ingin tampilkan sebuah artikel dari jurnal sains online gratis yang dibikin para mahasiswa Cambridge University, Inggris. Nama...

Google+ Followers

 
Copyright ©2016 English Reading Enthusiasts • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger